Kampung Warisan

Ketika kita berpuisi untuk kekasih

ada mata yang airnya tak kering mengalir

ada penguasa zalim kekenyangan bergelimpangan

ada pemimpin tangan hitam bergelak ketawa di celah riba wanita simpanan

kita pun mengusung mimpi

berpuisi lagi

 

Usah kita berpeluk dengan bayang kekasih lama

yang sudah renyuk wajahnya dimamah masa marilah kita hayun tangan

menjerit laungkan pembebasan

kalaupun kita disembur api

demi maruah dan sejarah   kampung warisan

tempat keringat dan air mata

datuk nenek kita tumpah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s