Dharmawijaya & A. Latif Mohidin

Kurnia Hidup 

 Pabila kembang sari yakin ini dalam pencarian

atas segala keluhuran dan kebenaran

maka tiap kurnia di sayap takdir

benarlah selamanya akan mengalir

detik-detik kehampaan

diharap pinta kehidupan

aku dan kalian.

 

Sedang segala saraf dan nadi di gigih jiwa

akan terus berdenyut dan bergetar jua

mengejar cita dan cinta

meski secebis cuma

emas urai kemakmuran dunia

bisa kita rasa antara debar getirnya.

 

Tapi semakin jauh kita di ombak perjalanan

maka terjunjung sudah sebuah penentuan

bahawa dunia ini adalah

bara yang tiada kunjung padamnya

dan hidup ini adalah

derita yang tiada hujungnya.

  

Lantas antaranyalah

bersama keringat dan air mata yang tertumpah

kita rela jatuh bangun sendiri

tanpa diratap tangiskan lagi.

  

[Dharmawijaya, Tanjung Ipoh, 21 Julai 1968]

  

Biarlah Kutiduri Jua

 

Biarlah

kutiduri jua

malamku ini

 

malam 

Terhimpit bulan

di bawah kaca

tersepit bintang

di daun jendela

 

malam

 Sungai mengalir panas

di dada desa

asap mengalir ganas

di bibir kota

 

malam

 Biarlah

kutiduri jua

malamku ini

sesak dadaku

pada ombak yang rata

retak bibirku

pada angin yang luka.

 

[A. Latiff Mohidin]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s