Kepada Mata yang Ganjil

Manisku….

kiranya kata-kata terpikat ini kebetulan

berpeluang menemuimu

atau lalu di celah-celah bibirmu

maafkan daku, itu matamu

di bawah lindungannya aku beristirah pada suatu petang

dan mencuri selintas beradu

dalam istirahnya kupeluk belai bintang dan bulan

kurangkai satu perahu cereka dari dedaun bunga

membaringkan jiwaku keletihan

memberi minum jiwaku kehausan

memuaskan hasrat mataku.

.

Manisku..

saat kita terserempak, bak pengembara bersua

kesedihanku sepertiku, merayapi jalan

tanpa selubung

dengan langkah kaki yang berat

kaulah kesedihanku

kedukaan dan kehilangan

kesunyian dan kesalan

memeluk sang penyair yang digunakan perjuangan

sajak, manisku, pengembara di tanah airku

dibunuh dek kekosongan dan kehampaan

jiwaku gementar pabila melihatmu, manisku

tiba-tiba kurasa, seolah belati mengalir dalam darahku

menyuci kalbuku, mulutku

melemparkan dengan alis kotor dan tangan menadah

di bawah naungan matamu yang manis.

.

Manisku…

kiranya kita bersua tiba-tiba

kiranya mataku merenung matamu

mendatar, hijau, tenggelam dalam halimun dan hujan

kiranya pada peluang lain kita bertemu di jalan

adakah peluang semata takdir?

lantas kan kucium jalan itu

dua kali.

.

[Muhammad al-Fayturi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s