Ratapan Para Syuhada

Kutahu mereka gugur demi membela tanah airnya
bumi ini bumi pejuang darah melimpah
kutahu inilah harga kemerdekaan
suatu yang indah, berukir rintihan
kutahu…..duka di rimba hatiku tiada siapa yang tahu
kutangisi setiap mata yang hilang sinar kehidupannya
kutangisi setiap roh yang mengalir pada bibir cuma.

Ingatlah-
duhai sungai kekayaan yang melimpah subur
kau bumi zamrud dan permata
kiranya menjenguk cahaya rembulan malam purnama
kaulah bintang di bumi keemasan cahaya
kaulah air terjun yang mengalir di pagi hening.

Ingatlah-
delima permatamu paling berharga
dan ingatlah-
musim kebangkitan kembali sebagai detik paling membanggakan,
padanya ribuah mata terbuka
yang pernah hilang cahayanya seketika dan terus hidup
padanya ribuan tangan dermawan
tanganmu yang pernah dibekukan dalam salji kematian.
Dan ingatlah-
sungai darah sungaimu yang paling berharga
mengalir dari urat darah anak-anak-generasi yang rela berkorban-
meresap dari larut bumimu yang subur harum
sesudah mereka kembara di mana-mana.
Semuanya pergi kemabukan sepanjang jalan
dengan pemuda cergas dengan harapan menghijau, denan hasrat,
ada lupakan dunia, gilakan kekasih,
ada menanam benih kebajikan,
memungut kebajikan, bunga dan lagu,
merancang memetik buah bibir-bibir mereka…

Mereka manusia seperti orang lain,
punya kelemahan, keazaman dan keinginan,
harapan beragam, dan kerinduan yang menyiksakan,
kemudian….pabila lagenda kejahatan memecah mimpi mereka;
dan satu soalan mencabar, dengan gemanya mendadak dan parau;
“Adakah itu keadilan dan kematian kejahatan,
atau cita-cita yang menguburkan hidup?
suatu hidup patut menyerah, atau penolakan kepala batu?”
mereka putuskan keazaman…dan pusara-pusara kosong diisi
dengan pemuda cergas, dengan harapan menghijau, dengan hasrat,
dengan hidup merdeka diberi bebas,
melimpah dari lubang-lubang gelap pusara.

Beginilah mereka menyongsong maut, selainnya masih mengikut lorong
                                                                                                                  sama,
mereka mimpikan takdir yang tak bisa dihindari, generasi pengorbanan!

Kengerian mendemam membanjiri nuraniku, dan mengalirlah
air mata kesedihan, serta sekilas kebanggaan.
Salma al-Khadra al-Jayyusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s