Dharmawijaya & A. Latif Mohidin
December 3, 2007
Kurnia Hidup
.
Pabila kembang sari yakin ini dalam pencarian
atas segala keluhuran dan kebenaran
maka tiap kurnia di sayap takdir
benarlah selamanya akan mengalir
detik-detik kehampaan
diharap pinta kehidupan
aku dan kalian.
.
Sedang segala saraf dan nadi di gigih jiwa
akan terus berdenyut dan bergetar jua
mengejar cita dan cinta
meski secebis cuma
emas urai kemakmuran dunia
bisa kita rasa antara debar getirnya.
.
Tapi semakin jauh kita di ombak perjalanan
maka terjunjung sudah sebuah penentuan
bahawa dunia ini adalah
bara yang tiada kunjung padamnya
dan hidup ini adalah
derita yang tiada hujungnya.
.
Lantas antaranyalah
bersama keringat dan air mata yang tertumpah
kita rela jatuh bangun sendiri
tanpa diratap tangiskan lagi.
.
[Dharmawijaya, Tanjung Ipoh, 21 Julai 1968]
.
.
Biarlah Kutiduri Jua
.
Biarlah
kutiduri jua
malamku ini
malam
.
Terhimpit bulan
di bawah kaca
tersepit bintang
di daun jendela
malam
.
Sungai mengalir panas
di dada desa
asap mengalir ganas
di bibir kota
malam
.
Biarlah
kutiduri jua
malamku ini
sesak dadaku
pada ombak yang rata
retak bibirku
pada angin yang luka.
.
[A. Latiff Mohidin]