Ahmad Sarju
November 29, 2007
Kepada Mata yang Ganjil
November 25, 2007
Manisku….
kiranya kata-kata terpikat ini kebetulan
berpeluang menemuimu
atau lalu di celah-celah bibirmu
maafkan daku, itu matamu
di bawah lindungannya aku beristirah pada suatu petang
dan mencuri selintas beradu
dalam istirahnya kupeluk belai bintang dan bulan
kurangkai satu perahu cereka dari dedaun bunga
membaringkan jiwaku keletihan
memberi minum jiwaku kehausan
memuaskan hasrat mataku.
.
Manisku..
saat kita terserempak, bak pengembara bersua
kesedihanku sepertiku, merayapi jalan
tanpa selubung
dengan langkah kaki yang berat
kaulah kesedihanku
kedukaan dan kehilangan
kesunyian dan kesalan
memeluk sang penyair yang digunakan perjuangan
sajak, manisku, pengembara di tanah airku
dibunuh dek kekosongan dan kehampaan
jiwaku gementar pabila melihatmu, manisku
tiba-tiba kurasa, seolah belati mengalir dalam darahku
menyuci kalbuku, mulutku
melemparkan dengan alis kotor dan tangan menadah
di bawah naungan matamu yang manis.
.
Manisku…
kiranya kita bersua tiba-tiba
kiranya mataku merenung matamu
mendatar, hijau, tenggelam dalam halimun dan hujan
kiranya pada peluang lain kita bertemu di jalan
adakah peluang semata takdir?
lantas kan kucium jalan itu
dua kali.
.
[Muhammad al-Fayturi]